Hasan Abu Faqih
Penulis I Dai I Guru I Pegiat Medsos I Pebisnis I Relawan I Bandung SMS/WA 085222781342 PIN 5C70C153
Selasa, 30 Agustus 2016
Senin, 29 Agustus 2016
PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
Pendidikan memiliki peran
penting pada era sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan proses
transformasi dan aktualisasi pengetahuan moderen sulit untuk diwujudkan.
Demikian halnya dengan sains sebagai bentuk pengetahuan ilmiah dalam
pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pula. Yaitu melalui
metodologi dan kerangka keilmuan yang teruji. Karena tanpa melalui proses ini
pengetahuan yang didapat tidak dapat dikatakan ilmiah.
Dalam Islam pendidikan tidak
hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan
sepanjang usia (long life education). Islam memotivasi pemeluknya
untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda,
pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam
dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang
terkait urusan ukhrowi saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan
pengetahuan yang terkait dengan urusan duniawi juga. Karena tidak
mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan
dunia ini.
Islam juga menekankan akan
pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya
ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena
hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan
akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya,
termasuk pengetahuan. Dan sebagai implikasinya kelestarian dan keseimbangan alam
harus dijaga sebagai bentuk pengejawantahan tugas manusia sebagai khalifah
fil ardh.
Dalam makalah ini akan
dipaparkan pandangan Islam tentang pendidikan, pemerolehan pengetahuan
(pendidikan), dan arah tujuan pemanfaatan pendidikan.
Pendidikan Menurut al-Qur’an
al-Qur’an telah berkali-kali
menjelaskan akan pentingnya pengetahuan. Tanpa pengetahuan niscaya kehidupan
manusia akan menjadi sengsara. Tidak hanya itu, al-Qur’an bahkan memposisikan
manusia yang memiliki pengetahuan pada derajat yang tinggi. al-Qur’an surat
al-Mujadalah ayat 11 menyebutkan:
“…Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat…”.
al-Qur’an juga telah
memperingatkan manusia agar mencari ilmu pengetahuan, sebagaimana dalam
al-Qur’an surat at-Taubah ayat 122 disebutkan:
“Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.
Dari sini dapat dipahami bahwa
betapa pentingnya pengetahuan bagi kelangsungan hidup manusia. Karena dengan
pengetahuan manusia akan mengetahui apa yang baik dan yang buruk, yang benar
dan yang salah, yang membawa manfaat dan yang membawa madharat.
Dalam sebuah sabda Nabi saw.
dijelaskan:
“Mencari ilmu adalah
kewajiban setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah)
Hadits tersebut menunjukkan
bahwa Islam mewajibkan kepada seluruh pemeluknya untuk mendapatkan pengetahuan.
Yaitu, kewajiban bagi mereka untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Islam menekankan akan pentingnya
pengetahuan dalam kehidupan manusia. Karena tanpa pengetahuan niscaya manusia akan
berjalan mengarungi kehidupan ini bagaikan orang tersesat, yang implikasinya
akan membuat manusia semakin terlunta-lunta kelak di hari akhirat.
Imam Syafi’i pernah menyatakan:
“Barangsiapa menginginkan
dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka harus
dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka harus dengan ilmu”.
Dari sini, sudah seyogyanya
manusia selalu berusaha untuk menambah kualitas ilmu pengetahuan dengan terus
berusaha mencarinya hingga akhir hayat.
Dalam al-Qur’an surat Thahaa
ayat 114 disebutkan:
“Katakanlah: ‘Ya Tuhanku,
tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.”
Pemerolehan Pengetahuan
dan Objeknya (Proses Pendidikan)
Pendidikan Islam memiliki
karakteristik yang berkenaan dengan cara memperoleh dan mengembangkan
pengetahuan serta pengalaman. Anggapan dasarnya ialah setiap manusia dilahirkan
dengan membawa fitrah serta dibekali dengan berbagai potensi dan kemampuan yang
berbeda dari manusia lainnya. Dengan bekal itu kemudian dia belajar: mula-mula
melalui hal yang dapat diindra dengan menggunakan panca indranya sebagai
jendela pengetahuan; selanjutnya bertahap dari hal-hal yang dapat diindra
kepada yang abstrak, dan dari yang dapat dilihat kepada yang dapat difahami.
Sebagaimana hal ini disebutkan dalam teori empirisme dan positivisme dalam filsafat.
Dalam firman Allah Q.s. an-Nahl ayat 78 disebutkan:
“Dan Allah mengeluarkan kamu
dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi
kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.[1]
Dengan pendengaran, penglihatan
dan hati, manusia dapat memahami dan mengerti pengetahuan yang disampaikan
kepadanya, bahkan manusia mampu menaklukkan semua makhluk sesuai dengan
kehendak dan kekuasaannya. Dalam al-Qur’an surat al-Jatsiyah ayat 13
disebutkan:
“Dan dia menundukkan untukmu
apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat)
daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.
Namun, pada dasarnya proses
pemerolehan pengetahuan adalah dimulai dengan membaca, sebagaimana dalam
al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5:
“Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang Menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah (3), Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam (4), Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya (5)”.
Dalam pandangan Quraish Shihab
kata Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari
menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami,
meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks tertulis maupun tidak.
Wahyu pertama itu tidak
menjelaskan apa yang harus dibaca, karena al-Qur’an menghendaki umatnya membaca
apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat
untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah,
ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun
diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’
mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.[2]
Sebagaimana dalam al-Qur’an
surat Yunus ayat 101 disebutkan:
“Katakanlah: ‘Perhatikanlah
apa yaag ada di langit dan di bumi”.
Al-Qur’an membimbing manusia
agar selalu memperhatikan dan menelaah alam sekitarnya. Karena dari lingkungan
ini manusia juga bisa belajar dan memperoleh pengetahuan.
Dalam al-Qur’an surat
asy-Syu’ara ayat 7 juga disebutkan:
“Dan apakah mereka tidak
memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai
macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”.
Demikianlah, al-Qur’an secara
dini menggarisbawahi pentingnya “membaca” dan keharusan adanya keikhlasan serta
kepandaian memilih bahan bacaan yang tepat.[3]
Namun, pengetahuan tidak hanya
terbatas pada apa yang dapat diindra saja. Pengetahuan juga meliputi berbagai
hal yang tidak dapat diindra. Sebagaimana tertuang dalam al-Qur’an surat
Al-Haqqah ayat 38-39:
“Maka Aku bersumpah dengan
apa yang kamu lihat (38). Dan dengan apa yang tidak kamu lihat (39)”.
Dengan demikian, objek ilmu
meliputi materi dan nonmateri, fenomena dan nonfenomena, bahkan ada wujud yang
jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. Dalam al-Qur’an surat
Al-Nahl ayat 8 disebutkan:
“Allah menciptakan apa yang
kamu tidak mengetahuinya”.[4]
Sebagaimana telah dipaparkan di
atas, dalam pengetahuan manusia tidak hanya sebatas apa yang dibutuhkan untuk
kelangsungan hidup manusia, namun juga semua pengetahuan yang dapat
menyelamatkannya di akhirat kelak.
Islam mengehendaki pengetahuan
yang benar-benar dapat membantu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan hidup
manusia. Yaitu pengetahuan terkait urusan duniawi dan ukhrowi,
yang dapat menjamin kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di
akhirat.
Pengetahuan duniawi adalah
berbagai pengetahuan yang berhubungan dengan urusan kehidupan manusia di dunia
ini. Baik pengetahuan moderen maupun pengetahuan klasik. Atau lumrahnya disebut
dengan pengetahuan umum. Sedangkan pengetahuan ukhrowi adalah berbagai
pengetahuan yang mendukung terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan hidup
manusia kelak di akhirat. Pengetahuan ini meliputi berbagai pengetahuan tentang
perbaikan pola perilaku manusia, yang meliputi pola interaksi manusia dengan
manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Atau biasa disebut
dengan pengetahuan agama.
Pengetahuan umum (duniawi)
tidak dapat diabaikan begitu saja, karena sulit bagi manusia untuk mencapai
kebahagiaan hari kelak tanpa melalui kehidupan dunia ini yang mana dalam
menjalani kehidupan dunia ini pun harus mengetahui ilmunya. Demikian halnya
dengan pengetahuan agama (ukhrowi), manusia tanpa pengetahuan agama
niscaya kehidupannya akan menjadi hampa tanpa tujuan. Karena kebahagiaan di
dunia akan menjadi sia-sia ketika kelak di akhirat menjadi nista.
Islam selalu mengajarkan agar manusia
menjaga keseimbangan, baik keseimbangan dhohir maupun batin, keseimbangan dunia
dan akhirat. Dalam Qs. Al-Mulk ayat 3 disebutkan:
“Yang telah menciptakan
tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan
yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang!
Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”.
Dalam al-Qur’an surat
ar-Ra’d ayat 8 juga disebutkan:
“Segala sesuatu di sisi-Nya
memiliki ukuran”.
Dari sini dapat dipahami bahwa
Allah selalu menciptakan segala sesuatu dalam keadaan seimbang, tidak berat
sebelah. Demikian halnya dalam penciptaan manusia. Manusia juga tercipta dalam
keadaan seimbang. Dari keseimbangan penciptaannya, manusia diharapkan mampu
menciptakan keseimbangan diri, lingkungan dan alam semesta. Karena hanya manusia
yang mampu melakukannya sebagai bentuk dari kekhalifahan manusia di
muka bumi.
Dalam al-Qur’an surat
al-Qashash ayat 77 disebutkan:
“Dan carilah pada apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan”.
Manusia tidak dianjurkan oleh
Islam hanya mencari pengetahuan yang hanya berorientasi pada urusan akhirat
saja. Akan tetapi, manusia diharapkan tidak melupakan pengetahuan tentang
urusan dunia. Meskipun kehidupan dunia ini hanyalah sebuah permainan dan senda
gurau belaka, atau hanyalah sebuah sandiwara raksasa yang diciptakan oleh Tuhan
semesta alam. Namun, pada dasarnya manusia diharapkan mampu menjaga
keseimbangan dirinya dalam menjalani realita kehidupan ini, termasuk dalam
mencari pengetahuan.
Al-Qur’an surat al-An’aam ayat
32 menyebutkan:
“Dan tiadalah kehidupan
dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung
akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu
memahaminya?”.
Islam menghendaki agar
pemeluknya mempelajari pengetahuan yang dipandang perlu bagi kelangsungan
hidupnya di dunia dan di akhirat kelak. Dalam al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat
201 disebutkan:
“Dan di antara mereka ada
orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan
di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Kebaikan (hasanah)
dalam bentuk apapun tanpa didasari ilmu, niscaya tidak akan terwujud. Baik
berupa kebaikan duniawi yang berupa kesejahteraan, ketenteraman, kemakmuran dan
lain sebagainya. Apalagi kebaikan di akhirat tidak akan tercapai tanpa adanya
pengetahuan yang memadai. Karena segala bentuk keinginan dan cita-cita tidak
akan terwujud tanpa adanya usaha dan pengetahuan untuk mencapai keinginan dan
cita-cita itu sendiri.
Pemanfaatan Pengetahuan
(Orientasi Pendidikan)
Manusia memiliki potensi untuk
mengetahui, memahami apa yang ada di alam semesta ini. Serta mampu
mengkorelasikan antara fenomena yang satu dan fenomena yang lainnya. Karena
hanya manusia yang disamping diberi kelebihan indera, manusia juga diberi
kelebihan akal. Yang dengan inderanya dia mampu memahami apa yang tampak dan
dengan hatinya dia mampu memahami apa yang tidak nampak. Dalam al-Qur’an surat
al-Baqarah ayat 31 disebutkan:
“Allah mengajarkan kepada
Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”.
Yang dimaksud nama-nama pada
ayat tersebut adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia
berpotensi mengetahui rahasia alam raya.
Adanya potensi itu, dan
tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam raya
membangkang terhadap perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat
memperoleh kepastian mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu
mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan alam yang telah ditundukkan
Tuhan.[5]
Namun, di sisi lain manusia juga
memiliki nafsu yang cenderung mendorong manusia untuk menuruti keinginannya.
Nafsu jika tidak terkontrol maka yang terjadi adalah keinginan yang tiada
akhirnya. Nafsu juga tidak jarang menjerumuskan manusia dalam lembah kenistaan.
Dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 53 disebutkan:
“Sesungguhnya nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.
al-Qur’an menandaskan bahwa umat
Islam adalah umat terbaik, yang mampu menciptakan lingkungan yang baik,
kondusif, yang bermanfaat bagi seluruh alam. Karena sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Dalam al-Qur’an surat Ali Imron
ayat 110 disebutkan:
“Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.
Sabda Nabi saw.:
“Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat”.
Pisau akan sangat berguna ketika
digunakan oleh orang yang berpikiran positif dan ahli dalam menggunakan pisau.
Sebaliknya, ketika pisau digunakan oleh orang yang berpikiran negatif, niscaya
bukan kemanfaatan dan kemaslahatan yang akan dihasilkan dari pisau itu,
melainkan kemadharatan.
Demikian halnya dengan
pengetahuan, ketika penggunaannya bertujuan untuk mencapai kemanfaatan niscaya
pengetahuan itu pun akan bermanfaat. Namun sebaliknya, ketika pengunaan
pengetahuan digunakan untuk kemadharatan, maka kemadharatan
itulah yang akan didapat.
Ilmu pengetahuan adalah sebuah
hubungan antara pancaindera, akal dan wahyu. Dengan pancaindera dan akal
(hati), manusia bisa menilai sebuah kebenaran (etika) dan keindahan (estetika).
Karena dua hal ini adalah piranti utama bagi manusia untuk mendapatkan
pengetahuan. Namun, disamping memiliki kelebihan, kedua piranti ini memiliki
kekurangan. Sehingga keduanya masih membutuhkan penolong untuk menunjukkan
tentang hakikat suatu kebenaran, yaitu wahyu. Dan dengan wahyu manusia dapat
memahami posisinya sebagai khalifah fil ardh.[6]
Wahyu yang diturunkan kepada
manusia tidak hanya berisikan perintah dan larangan saja, akan tetapi lebih
dari itu al-Qur’an juga membahas tentang bagaimana seharusnya hidup dan
menghargai kehidupan. Dan tidak terlepas juga di dalam al-Qur’an dikaji tentang
sains dan teknologi sehingga tidaklah berlebihan jika kita menyebutnya sebagai
kitab sains dan medis[7].
Namun, berbagai bentuk kemajuan
sains dan teknologi serta ilmu pengetahuan tanpa didasari tujuan yang benar,
niscaya hanya akan menjadi sebuah bumerang yang menghancurkan kehidupan
manusia. Karena tidak jarang saat ini manusia malah mengalami kejenuhan,
kehampaan jiwa, hedonisme, materialisme bahkan dekadensi moral yang tidak
jarang pula implikasinya merugikan diri mereka sendiri bahkan lingkungan
sekitar. Padahal dengan adanya kemajuan sains dan teknologi kehidupan manusia
diharapkan menjadi lebih mudah, efisien, instan, yang bukan malah menimbulkan
tekanan jiwa dan kerusakan lingkungan.
Dalam Islam telah digariskan
aturan-aturan moral penggunaan pengetahuan. Apapun pengetahuan itu, baik
kesyaritan maupun lainnya, teoritis maupun praktis, ibarat pisau bermata dua
yang dapat digunakan pemiliknya untuk berlaku munafik dan berkuasa atau berbuat
kebaikan dan mengabdi kepada kepentingan umat manusia. Pengetahuan tentang atom
umpamanya, dapat digunakan untuk tujuan-tujuan perdamaian dan kemanusiaan, tapi
dapat pula digunakan untuk menghancurkan kebudayaan manusia melalui senjata-senjata
nuklir.[8]
Al-Qur’an juga telah menegaskan
bahwa kerusakan di muka bumi adalah akibat dari ulah manusia sendiri. Dalam
al-Qur’an surat ar-Rum ayat 41 disebutkan:
“Telah nampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia”.
Manusia adalah makhluk yang
memiliki tanggung jawab, yaitu tanggung jawab menjadi khalifah fil ardh.
Kekhalifahan manusia adalah salah satu bentuk dari ta’abbud-nya kepada
sang Khalik. Sedangkan ta’abbud adalah tugas pokok dari penciptaan
manusia, sekaligus menggali, mengatur, menjaga dan memelihara alam semesta ini.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat adz-Dzariyat ayat 56:
“Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Dalam al-Qur’an surat al-A’raf
ayat 85 disebutkan:
“Sempurnakanlah takaran dan
timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan
timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan
memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu
orang-orang yang beriman“.
Pemanfaatan pengetahuan harus
ditujukan untuk mendapatkan kemanfaatan dari pengetahuan itu sendiri, menjaga
keseimbangan alam semesta ini dengan melestari-kan kehidupan manusia dan alam
sekitarnya, yang sekaligus sebuah aplikasi dari tugas kekhalifahan manusia di
muka bumi. Dan pemanfaatan pengetahuan adalah bertujuan untuk ta’abbud kepada
Allah swt., Tuhan semesta alam. Wallahu a’lam.
Kesimpulan
Dari deskripsi singkat di atas,
dapat dipahami bahwa al-Qur’an telah memberikan rambu-rambu yang jelas kepada
kita tentang konsep pendidikan yang komperehensif. Yaitu pendidikan yang tidak
hanya berorientasi untuk kepentingan hidup di dunia saja, akan tetapi juga
berorientasi untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak. Karena kehidupan dunia
ini adalah jembatan untuk menuju kehidupan sebenarnya, yaitu kehidupan di
akhirat
Manusia sebagai insan kamil
dilengkapi dua piranti penting untuk memperoleh pengetahuan, yaitu akal dan
hati. Yang dengan dua piranti ini manusia mampu memahami “bacaan” yang ada di
sekitarnya. Fenomena maupun nomena yang mampu untuk ditelaahnya. Karena hanya
manusia makhluk yang diberi kelebihan ini.
Pengetahuan yang telah didapat
manusia sudah seyogyanya diorientasikan untuk kepentingan seluruh umat manusia.
Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia
seluruhnya. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa manusia juga hidup berdampingan
dengan lingkungan, sehingga tidak bisa serta merta kemajuan pengetahuan
pengetahuan dan teknologi malah menghancurkan dan merusak keseimbangan alam.
Karena sudah menjadi tugas manusia untuk melestarikan alam ini sebagai
pengejawantahan kekhalifahan manusia sekaligus bentuk ta’abbudnya
kepada Allah swt.
Daftar Pustaka
Ahmad, al-Hajj, Yusuf. al-Qur’an
Kitab Sains dan Medis. Terj. Kamran Asad Irsyadi. Grafindo Khazanah Ilmu.
Jakarta. 2003.
al-Qardawi, Yusuf. Sunnah,
Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Terj. Abad Badruzzaman. PT. Tiara Wacana.
Yogyakarta. 2001.
Aly, Noer, Hery & Suparta,
Munzier. Pendidikan Islam Kini dan Mendatang. CV. Triasco. Jakarta. 2003.
Habib, Zainal. Islamisasi
Sains. UIN-Malang Press. Malang. 2007.
Shihab, Quraish, M. Membumikan
al-Qur’an. Mizan. Bandung. 2004.
_______________. Wawasan
al-Qur’an. Mizan. Bandung. 2001.
Zainuddin, M. Filsafat Ilmu
Perspektif Pemikiran Islam. Lintas Pustaka. Jakarta. 2006.
[1]Hery
Noer Aly & Munzier Suparta, Pendidikan Islam Kini dan Mendatang,
(Jakarta: CV. Triasco, 2003), h. 109.
[2]M.
Qusraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2001), h. 433.
[3]________________,
Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2004), h. 168.
[4]M.
Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2001), h. 436.
[5]Ibid,
h. 442.
[6]Lihat
Yusuf al-Qardawi, Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, terj. Abad
Badruzzaman, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2001), h. 117-121.
[7]Lihat
Yusuf al-Hajj Ahmad, al-Qur’an Kitab Sains dan Medis, terj. Kamran
Asad Irsyadi, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2003), cet.II.
[8]Hery
Noer Aly & Munzier Suparta, op.cit., h. 109-110. Bandingkan dengan
Zainal Habib, Islamisasi Sains, (Malang: UIN-Malang Press, 2007), h.
14-18.
Langganan:
Postingan (Atom)
